
Zona Malam - KEHADIRAN model sebagai mediator desainer terhadap pelanggannya memang perlu disesuaikan dengan kebutuhan. Model tidak sekadar merepresentasi keindahan busana, tapi juga mewakili realita pasar sesungguhnya.
Lenggak-lenggok model di catwalk selalu membuat decak kagum masyarakat. Dengan balutan busana desainer nan indah, tampilan mereka pun semakin menawan. Tak salah jika publik kerap kepincut untuk mengenakan busana serupa di tubuhnya.
Sayangnya, hal tersebut tidak selalu dengan mudah terwujud. Pasalnya, tidak semua wanita Indonesia memiliki tubuh indah bak model. Alhasil, pesan yang disampaikan dari desainer seperti sebuah jualan mimpi semata. Sebab, keindahan busana di tubuh model tak dapat dirasakan langsung konsumen secara nyata.
Menyoal fenomena ini, beberapa desainer Eropa telah menyadari hal tersebut. Mereka sadar bahwa pembeli busana mereka tidak semua wanita yang memiliki bentuk tubuh ideal dan langsing seperti model.
Industri mode di Tanah Air pun diharapkan menyadari hal tersebut. Lahirnya model-model baru yang merajai panggung mode sebaiknya memang sosok yang dapat merepresentasikan wanita Indonesia sesungguhnya.
Ghea Panggabean, salah satu desainer senior Indonesia, sepakat dengan hal tersebut. Dituturkannya, di seluruh dunia memang pemakaian model yang kurus langsing masih menjadi standar secara umum, meski kenyataannya pembeli mereka bukanlah tipe badan sempurna tersebut.
“Mungkin jika ada acara spesial, bisa saja mereka menggunakan model yang curvy, tapi memang di Indonesia belum ada. Cuma, hal ini merupakan ide bagus untuk memulai menggunakan model curvy yang sesuai dengan target pembeli potensialnya nanti,” papar Ghea saat ditemui Okezone di Hotel Harris, Jakarta, baru-baru ini.
Desainer yang dikenal dengan rancangan dengan desain loose ini mengaku, busana rancangannya memang dapat dikenakan untuk wanita yang berukuran besar. Namun untuk koleksi ready-to-wear (siap pakai), rancangannya tersebut digunakan untuk wanita berusia lebih muda, sesuai dengan target yang disasar Ghea.
Ghea tak menampik jika penggunaan model-model curvy mungkin saja mewarnai panggung fesyennya kelak. Hal itu akan disesuaikan dengan target market yang disasarnya.
“Ke depan mungkin bisa dipikirkan lagi. Kita perlu realistis menggunakan model seperti itu dan harus disesuaikan dengan target market,” tutupnya. (ind) (tty)
sumber :okezoneLenggak-lenggok model di catwalk selalu membuat decak kagum masyarakat. Dengan balutan busana desainer nan indah, tampilan mereka pun semakin menawan. Tak salah jika publik kerap kepincut untuk mengenakan busana serupa di tubuhnya.
Sayangnya, hal tersebut tidak selalu dengan mudah terwujud. Pasalnya, tidak semua wanita Indonesia memiliki tubuh indah bak model. Alhasil, pesan yang disampaikan dari desainer seperti sebuah jualan mimpi semata. Sebab, keindahan busana di tubuh model tak dapat dirasakan langsung konsumen secara nyata.
Menyoal fenomena ini, beberapa desainer Eropa telah menyadari hal tersebut. Mereka sadar bahwa pembeli busana mereka tidak semua wanita yang memiliki bentuk tubuh ideal dan langsing seperti model.
Industri mode di Tanah Air pun diharapkan menyadari hal tersebut. Lahirnya model-model baru yang merajai panggung mode sebaiknya memang sosok yang dapat merepresentasikan wanita Indonesia sesungguhnya.
Ghea Panggabean, salah satu desainer senior Indonesia, sepakat dengan hal tersebut. Dituturkannya, di seluruh dunia memang pemakaian model yang kurus langsing masih menjadi standar secara umum, meski kenyataannya pembeli mereka bukanlah tipe badan sempurna tersebut.
“Mungkin jika ada acara spesial, bisa saja mereka menggunakan model yang curvy, tapi memang di Indonesia belum ada. Cuma, hal ini merupakan ide bagus untuk memulai menggunakan model curvy yang sesuai dengan target pembeli potensialnya nanti,” papar Ghea saat ditemui Okezone di Hotel Harris, Jakarta, baru-baru ini.
Desainer yang dikenal dengan rancangan dengan desain loose ini mengaku, busana rancangannya memang dapat dikenakan untuk wanita yang berukuran besar. Namun untuk koleksi ready-to-wear (siap pakai), rancangannya tersebut digunakan untuk wanita berusia lebih muda, sesuai dengan target yang disasar Ghea.
Ghea tak menampik jika penggunaan model-model curvy mungkin saja mewarnai panggung fesyennya kelak. Hal itu akan disesuaikan dengan target market yang disasarnya.
“Ke depan mungkin bisa dipikirkan lagi. Kita perlu realistis menggunakan model seperti itu dan harus disesuaikan dengan target market,” tutupnya. (ind) (tty)
Baca juga - klik di sini Pics Hot

Visit Skinny Sexy Girls for daily updated images of art collection